Media sosial ibarat pedang bermata dua

Media sosial ibarat pedang bermata dua. Pengaruhnya bisa menjadi positif dan produktif, tetapi bisa juga negatif dan kontraproduktif.

Media sosial yang memproduksi ujaran kebencian, menyebarkan informasi bohong, merupakan terorisme verbal yang menciptakan kekhawatiran dan ketidakpastian. Hal ini jelas negatif dan kontraproduktif. Sebaliknya, media sosial yang dimanfaatkan untuk menggalang solidaritas sosial membantu korban bencana alam, berbela rasa terhadap korban pemerkosaan, adalah positif untuk membangkitkan solidaritas sosial.

Kondisi inilah yang dihadapi Indonesia. Setelah 71 tahun merdeka, bangsa ini memasuki euforia kebebasan berekspresi di media sosial. Presiden Joko Widodo mulai mempertanyakan ujaran kebencian, adu domba yang merebak di media sosial.

Jumlah pengguna internet di Indonesia, Juni 2015, mencapai 73 juta atau 28,5 persen dari penduduk Indonesia. Pengguna Facebook berjumlah 51.096.860 akun per 31 Desember 2012. Seiring dengan dinamika politik Indonesia, linimasa media sosial mulai merambah isu politik yang sangat rawan. Linimasa merupakan loncatan besar dalam demokrasi karena menciptakan ruang tanpa batas untuk mengekspresikan pandangan politik. Linimasa memotong hierarki informasi yang selama ini berjenjang.

Kerusuhan di Tanjung Balai, 29 dan 30 Juli 2016, adalah akibat dari status seseorang di media sosial yang berujung pada kerusuhan. Swati Bute dalam bukuThe Role of Social Media in Mobilizing People for Riots and Revolutions: Four Case Studies in India (2014) menggambarkan bagaimana kerusuhan di Assam tahun 2012 dan Muzaffarpur tahun 2013 dipengaruhi pesan menyesatkan dan gambar palsu yang menyebar di media sosial. Informasi setengah matang itu tersebar di media sosial. (Kompas, 2 Agustus 2016)

Demokrasi digital dan media sosial merupakan gejala global, termasuk di Indonesia. Pengguna media sosial dibiasakan terpapar dengan perbedaan informasi di media sosial. Namun, pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi pesan di media sosial yang dipenuhi pesan kebencian. Secara kasatmata, ada tren seseorang akan mencari dan membagi informasi yang sejalan dengan pandangan politik mereka. Akibatnya, mereka akan terisolasi kelompok haters dan lovers dan akan menambah ekstremitas.

Perkembangan media sosial perlu diantisipasi. Pendekatan hukum bisa saja dilakukan tanpa harus mengekang kebebasan berpendapat. Namun, pemegang infrastruktur teknologi informasi harus bertanggung jawab dan membangun kode etik perilaku untuk mengatasi penyebaran kebencian. Gerakan literasi media sosial perlu dikembangkan agar kita semakin bijak dalam berkata-kata.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 November 2016, di halaman 6 dengan judul “Mengelola Media Sosial”.

Iklan

JEJAK POROS BAHARIRempah Masyhur Sejak Dulu Kala

5 Desember 2016 0 komentar

Rempah-rempah dikenal dunia jauh sebelum kedatangan bangsa- bangsa Eropa ke Nusantara. Kemasyhuran cita rasa pala, cengkeh, jahe, lada, dan kayu manis tidak lepas dari kepiawaian pelaut-pelaut Nusantara berlayar memperdagangkan hasil bumi ke berbagai belahan dunia.

KOMPAS/IWAN SETIYAWANSalah satu sudut Pulau Run di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Pulau yang dikenal sebagai asal muasal buah pala ini pada pertengahan abad ke-17 pernah dikuasai Inggris kemudian ditukar dengan Pulau Manhattan di Amerika, yang pada masa itu dikuasai Belanda.

Penyair Portugis, Luis de Camões, dalam karya-karyanya menyebut Vasco da Gama bersama para pencari rempah berlayar menuju laut yang tidak pernah dilayari sebelumnya. Namun, pada kenyataannya, rute pelayaran yang mereka lalui sebelumnya menjadi jalur rempah selama berabad-abad sebelum Da Gama dan rekan-rekannya buang jangkar. Sebab, rempah-rempah Asia telah dikenal di Eropa jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Asia.

Dengan bekal pengenalan wilayah yang minim, para pelaut Portugis harus bergantung pada navigator-navigator dari Arab, Jawa, dan Tionghoa. Artinya, kemampuan berlayar masyarakat lokal saat itu tidak kalah dengan pelaut-pelaut Eropa.

Kisah tentang pelayaran pelaut-pelaut Nusantara antara lain tertuang dalamNegarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada era Kerajaan Majapahit, 1350-1389. Di dalamnya diceritakan bagaimana pelaut-pelaut kita telah berlayar sampai ke Tiongkok dan India.

Sejarawan dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Edward L Poelinggomang, mengungkapkan, selain Majapahit, sekitar abad ke-16 dan ke-17, Kerajaan Gowa dan Tallo juga berdagang rempah-rempah ke sejumlah negara. “Kerajaan ini bahkan sampai memiliki loji-loji (gudang-gudang) rempah-rempah di Filipina, Makau, dan Belanda,” kata Edward, akhir pekan lalu, saat dihubungi dari Jakarta.

Memonopoli

Begitu melihat potensi ekonomi rempah-rempah yang menjanjikan, negara-negara barat kemudian mengambil alih perdagangan. Mereka langsung mencari rempah-rempah dari tempat asalnya. Untuk meraup keuntungan yang lebih besar, mereka memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Pada masa itu, di Eropa, rempah-rempah berharga setara dengan emas. Komoditas ini diburu tidak hanya sebagai bahan pengawet makanan dan bumbu kuliner, tetapi juga menjadi simbol status sosial.

Menurut Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Susanto Zuhdi, kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara menjadi awal penguasaan perdagangan rempah. Era ini diawali dengan perebutan pelabuhan terkaya di timur, yaitu Malaka, oleh Portugis. Malaka merupakan pelabuhan transit strategis seperti halnya Singapura sekarang yang menjadi titik pertemuan distribusi rempah-rempah dari timur ke barat.

Penguasaan poros ekonomi bahari ini secara otomatis merampas rantai perdagangan para pedagang lokal di kawasan Malaka, termasuk mereka yang berasal dari kawasan Nusantara. Distribusi rempah yang panjang, mulai dari Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, kemudian menuju Malaka, berlanjut ke pasar rempah di Malabar, India menyeberangi Samudra Hindia mengarah ke Persia, Laut Merah, Jeddah, Muskat, menyusuri gurun pasir ke Alexandria dan Levant akhirnya dipotong di Malaka. Era monopoli perdagangan pun dimulai.

Untuk meraup keuntungan yang berlipat-lipat, tentu saja pedagang-pedagang Barat tak puas hanya mengandalkan pasokan rempah di Pelabuhan Malaka. Mereka ingin berburu rempah ke tempat asalnya.

Tercerabut dari budaya

Monopoli perdagangan rempah merupakan titik awal bagaimana masyarakat Nusantara yang berbasis budaya bahari mulai dicerabut dari konteksnya. “Proses pengasingan masyarakat Nusantara dari budaya bahari antara lain dilakukan Belanda terhadap Kerajaan Gowa-Tallo dalam Perjanjian Bongaya (1667). Perjanjian ini melarang pelaut-pelaut Bugis berlayar ke perairan Nusantara,” kata arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo.

Memasuki abad ke-19, masyarakat Nusantara semakin dijauhkan lagi dari lautan dengan munculnya politik tanam paksa dari pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat yang sebagian besar adalah pelaut akhirnya dipaksa untuk bercocok tanam yang hasilnya disetor untuk Pemerintah Belanda.

Praktik tanam paksa secara tidak langsung “membunuh” suku-suku bangsa bahari di Indonesia. Mereka semakin terasingkan dari dunia kebaharian.

Proses pengasingan masyarakat dari konteks kelautan ternyata terus berlanjut hingga masa Orde Baru. Di satu sisi, swasembada pangan pada masa Orde Baru memang sempat berhasil diwujudkan, tetapi di sisi lain program pemerintah ini juga kian mengerdilkan masyarakat pesisir (nelayan).

(ABK)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Desember 2016, di halaman 12 dengan judul “Rempah Masyhur Sejak Dulu Kala”.

​Ketika Islam Menjadi Tertawaan

Sungguh menyedihkan Islam di negeriku..
Petunjukku, jalanku, keselamatanku
Penuntunku, pencerahku, penutup lukaku
Diarak kemana-kemana oleh para pengaku..

Ada para pencuri yang tertangkap dan berlindung dibalik jubahnya
Ada yang menipu harta umat mengatasnamakan kebenarannya
Ada yang membesarkan ajarannya dengan kebohongan..
Ada yang menekan umat lain atas nama firman..
Ada yang menyampaikannya dengan jumawa dan menyakitkan
Ada pula yang meneriakkannya dengan salah atas nama kebenaran
Ada yang berargumen memakainya dengan ketololan
Ada pula yang memaknai surga yang tertera dengan kerendahan
Ada yang berteriak, “semoga kalian mendapat hidayah !”
Tetapi perilakunya membuat banyak orang resah

Ada yang sombong mengatakan bahwa ini agama toleran
Tapi ia terus memukul atas nama Tuhan
Ada yang menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling paham
Disisi lain ucapannya membuatnya banyak ditertawakan..
Ada yang mengaku bahwa ia keturunan pembawanya
Tapi sedikitpun ahlaknya tidak tampak padanya..
Ada yang..

Ah, tidak perlu kuteruskan karena sungguh memalukan..
Islam dinegeriku menjadi bahan tertawaan
Ternista dengan sendirinya oleh para pembelanya
Ajaran cinta yang malah menjadi pedang
Lalu bagaimana mereka bisa bilang bahwa ini agama yang paling benar?

Nabiku menangis dengan perih
Karena apa yang ia katakan menjadi kenyataan
Umatku banyak di akhir zaman
Tapi mereka seperti buih di lautan
Dan aku harus mengakui dengan getir
Mereka saudara seimanku meski mereka kenthir

Dibalik tertawaku melihat banyaknya kebodohan
Setiap tulisanku adalah airmata yang mengalir..
Hanya secangkir kopi yang bisa kupegang
Mencoba waras ditengah semua kegilaan

Ternyata bagi mereka adalah kekafiran..

Menjarakkan Agama dan Politik

Senin, 27 March 2017 05:03 WIB

INDONESIA negara berketuhanan yang maha esa. Itu menandakan Indonesia negara yang mengakui Tuhan, bukan negara ateis.

Itu sekaligus menandakan Indonesia bukan negara berdasarkan pada satu agama tertentu. Indonesia bukan negara agama karena negara agama pastilah berdasarkan pada satu agama tertentu.

Bila Indonesia berdasarkan agama tertentu, pastilah dasar negara menyebut agama tersebut. Dasar negara kita menyebut ‘Tuhan Yang Maha Esa’, yang merupakan sembahan semua agama, bukan cuma satu agama.

Negara selanjutnya menjamin kebebasan penganut agama, agama apa pun, untuk beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka. Kelompok-kelompok intoleranlah yang suka menghalangi penganut agama beribadah.

Pemisahan politik dan agama sesungguhnya terkandung dalam prinsip ‘Indonesia negara berketuhanan yang maha esa’ itu. Presiden Joko Widodo pekan lalu menyatakan keharusan pemisahan agama dan politik. Itu artinya pernyataan Presiden sangat prinsipiil, terkandung dalam ideologi negara.

Selain sangat prinsipiil, pernyataan Presiden Jokowi juga sangat kontekstual. Beberapa bulan belakangan energi bangsa ini nyaris tandas terkuras untuk mengurus pelibatan agama dalam politik pilkada DKI Jakarta.

Pilkada DKI yang semestinya berlangsung wajar sebagaimana pilkada-pilkada lain menjadi rumit dan keruh. Pilkada-pilkada lain berlangsung asyik tanpa kekeruhan karena tidak ada elite yang melibatkan agama di dalamnya.

Unjuk rasa bertubi-tubi merupakan salah satu bentuk kekeruhan di pilkada DKI Jakarta itu. Lalu lintas macet. Rutinitas warga terganggu. Aparat keamanan pontang-panting. Jatuhnya sejumlah korban politik ialah bentuk lain kekeruhan politik di pilkada DKI. Kandidat petahana Basuki Tjahaja Purnama menjadi korban pertama, harus duduk di kursi terdakwa. Ahmad Ishomuddin yang menjadi saksi meringankan Basuki di persidangan ialah korban lainnya, diberhentikan dari kepengurusan Majelis Ulama Indonesia.

Dari kalangan rakyat, ada warga yang diberhentikan sebagai pembina masjid karena memilih Basuki pada putaran pertama. Bahkan, ada jenazah warga yang ditolak untuk disalati, juga karena semasa hidupnya mencoblos Basuki di putaran pertama.

Presiden Jokowi dalam konteks ini sesungguhnya hendak mengingatkan kita semua untuk tidak lagi mencampuradukkan agama dan politik. Pasalnya banyak elite yang sampai sekarang gemar menggado-gadokan agama dan politik. Tak sedikit pula elite yang menikmati dan menangguk untung dari kekeruhan akibat gado-gado agama dan politik.

<

p dir=”ltr”>Celakanya, para elite melibatkan agama dalam politik kelihatannya bukan karena sungguh-sungguh hendak menjalankan ajaran agama, melainkan karena kekuasaan. Bila itu yang terjadi, mereka sama saja sekadar menjadikan agama sebagai kendaraan politik untuk meraih kekuasaan.
Bila dikatakan politik itu kotor, agama selayaknya hadir untuk membersihkannya, bukan memperkeruhnya. Agar dapat menjalankan fungsi sebagai penjaga moral politik, agama sepantasnya menjaga jarak dengan politik. Bila agama masuk terlalu dalam ke pusaran politik, sangat mungkin yang terjadi kekeruhan.

Itulah sebabnya para bapak pendiri bangsa tidak mencampuradukkan agama dan politik, tidak menjadikan agama sebagai ideologi negara. Para pendiri bangsa tidak menginginkan generasi penerus direpotkan urusan menyelesaikan kekeruhan akibat bercampurnya agama dan politik. Lalu mengapa kita repot mencari-cari perkara dengan mencampuradukkan agama dengan politik? Gitu aja kok repot.

– See more at: http://mediaindonesia.com/editorial/read/1016/menjarakkan-agama-dan-politik/2017-03-27#sthash.fYxfeUmS.dpuf

Tangan Kerap Kesemutan dan Mati Rasa? Hati-hati Terserang Penyakit Ini

Tangan kesemutan (Diseases Pictures)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Mati rasa adalah gejala di mana seseorang tidak bisa merasakan sensasi di bagian tubuh tertentu, karena berbagai alasan. Mati rasa juga dapat disertai dengan sensasi kesemutan. Jadi, kita lihat beberapa alasan yang berbahaya mengapa tangan Anda bisa merasa mati rasa, seperti dilansir dari laman Blodsky, Senin (27/3/2017).

Hypothyroidism adalah suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tiroid, sehingga menimbulkan sejumlah gejala, termasuk mati rasa tangan.

Alkoholisme, atau minum alkohol berlebih secara teratur, dapat menyebabkan kerusakan saraf di berbagai bagian tubuh, termasuk lengan, menyebabkan gejala seperti nyeri lengan dan mati rasa dari tangan.

Sindrom Guillaine Barre ini adalah gangguan autoimun yang menyebabkan kerusakan saraf di banyak bagian tubuh, termasuk tangan, menyebabkan mati rasa, kelemahan dan sensasi kesemutan.

Penyakit Lyme ini adalah penyakit menular yang menyebabkan dari gigitan kutu, yang juga dapat mempengaruhi saraf. Gejala-gejala termasuk, flu, mati rasa dari tangan dan kelelahan.

Aliran darah tersumbat dari otak ke tangan, merupakan salah satu alasan utama untuk serangan stroke, seseorang bisa mengalami mati rasa, sebagai gejala.

Kista ganglion kecil, kista non-kanker yang berkembang pada saraf atau tendon lengan, yang mengakibatkan gejala yang tidak diinginkan seperti sakit lengan dan mati rasa tangan.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari

Editor : Lince Eppan

​PITUAH DT RAJO ANGEK untuk Anak Kamanakan dimano sajo barado 📖

Elok elok kamanakan dirantau,
Lauik SATI rantau BATUAH,

Usah lupo pai KASURAU,

Barasaki jan lupo basidakah
Rantangkan tali kapangabek

Jalin kulindan diateh bumi,

Hubungan jo ALLAH dipaarek

Parapek pulo samo insani
Hilia kabukik rimbo panjang,

Tikuluak nan usah ditanggai,

Usah paturuik an hati gadang,

Isuak nyo badan disasa i
Kalilah banda tanamlah lantak                                    

Nak lalu aia kamuaro,

Awal dikana akhia indak,

Alamaik kajadi sio sio
Dek ameh sagalo kameh,

Dek padi sagalo  jadi,

Usah kamanakan  bamaleh maleh,

Rajin rajin kamanakan mancari
Kok lai rasaki banyak’

saketek paralu disimpan juo,

Kanalah badan katalatak,

Ingeklah nantik awak ka tuo
Usah maminum sadaguik abih,

Mamakan usah sakulek hilang, 

Bahemat hemat jikok bapitih,

Balanjo nan usah gadang2
Tangguak rapek karuntuang jarang,

Dimanolah ikan katabao,

Gaji ketek balanjo gadang,

Alamat badan kasansaro
Kawan galak mudah dicari,

Kawan manangih jarang basuo,

Galak tabahak dimeja judi,

Manangih surang dipanjaro
Usah main bahuru huru,

Pai malala kian kamari,

Pandai pandailah mambagi waktu

Baiak siang jo malam hari
Jikok singgah dikadai kopi,

Minumlah kopi gak samangkuak

Jauah i wisky jo brendy,

mambuek teler sarato mabuak
Kurai taji pakan sinayan,

Urang manjua lado mudo,

Capek kaki ringan tangan,

Namun salero kalapeh juo
Capek kaki usah panaruang

Capek tangan usah manyambo

Kadalam tansi lalok baguluang

Sasa tumbuah ndak ado guno
Jiko kamanakan pai ka lapau, 

hiu bali balanak bali, 

Ikan panjang bali dahulu,

Jikok kamanakan pai marantau,

Ibu cari dunsanak pun cari,

Induak samang cari dahulu
Jikok pandai bakain panjang

Samo sajo bakain saruang,

Jikok pandai bainduak samang

Samo sajo jo mandeh kanduang
Tagaklah kamanakan di nan data ,

Tagak diadat jo aturan

Badirilah kamankan di nan bana,

Mungkin jo patuik ka ukuran
Kalau sipadan diasak urang,

Nan bana nyo tuka tagak,

Tunjuakkan awak sabagai rang minang,

Usah takuik darah taserak 
Darah ayah turun ka anak

Warih dijawek dek kamanakan

Usah mundur walau satapak

Adok i malah sacaro jantan
Kok pai kamanakan ka batawi,

Mancari pitih dirantau urang

Usah sampai tajarek kaki,

Sahinggo lupo jo Ranah minang
Laguah lagah bunyi padati

Padati anak urang kamang mambao patai sarato lado

Bialah sapiriang dapek pagi

Walau sasuok dapek patang

Jan lah sampai baputuih aso
Ijuak kok nyato jd tali,

Anau dirimbo kanalah juo,

Isuak ko ado lai rasaki,

Usah lupo sanak sudaro
Bialah luluah padi di balam,

Namun dadak baniahkan juo,

Bialah rusuah hati didalam,

Namun galak manihkan juo
Bakabuik gunuang talamau,

Hilang ditimpo paneh pagi,

Usah hanyuik buyuang dirantau,

Jalang juo sanak famili
Jikok kaladang kamanakan bisuak

Padi nan indak ado lai Namun banto siangi juo

Jikok pulang kamanakan bisuak

Kami nan indak ado lai

Namun pusaro jalangi juo
Babuek baiak pado pado 

babuek buruak sakali jangan

Jan sampai diri taniayo

Sayang ka urang jajok dibadan
itulah pasan Dt Rajo Angek nan harus dijalankan…

Jan sampai manyasa kamudian…🙂

Stroke: Pembunuh diam-diam

Suara.com – Stroke merupakan pembunuh diam-diam. Orang yang terkena stroke biasanya akan mengalami gejala lumpuh baik menyeluruh atau sebagian hingga mulut mencong yang dalam bahasa medis disebut mulut pero.

Pengetahuan yang kurang akan penanganan stroke membuat penderitanya kehilangan kesempatan untuk kembali normal. Pasalnya, penderita stroke memiliki waktu terbatas yakni enam jam untuk mengonsultasikan kondisinya ke dokter.

Salah satu penanganan stroke karena sumbatan adalah DSA (Digital Substraction Angiography). Tapi ini hanya punya batas waktu hingga enam jam. Kalau lewat dari enam jam sel-sel di otak sudah rusak, sehingga lumpuh menetap atau sulit kembali normal.

Melalui metode DSA, dokter bisa mendapat gambaran yang tepat mengenai kondisi pembuluh darah di otak sekaligus memberikan penanganan. Pada kasus stroke karena sumbatan, aliran darah akan terhambat sehingga otak tidak mendapatkan oksigen atau glukosa.

Salah satu faktor risiko stroke ialah kolesterol jahat merupakan faktor risiko dari berbagai penyakit seperti stroke dan serangan jantung. Keduanya identik dengan penyakit orang tua. Tapi tahukah Anda bahwa kini para profesional muda juga banyak yang telah mengidap stroke dan serangan jantung?

Karena itu, dia mengimbau agar seseorang melakukan pengecekan kadar kolesterol secara rutin minimal setiap tiga hingga enam bulan. Upaya deteksi dini ini bisa dilakukan saat ‘general check up’ atau pemeriksaan kolesterol guna mencegah hal yang tidak diinginkan.

Pemeriksaan rutin kadar kolesterol, tambah dia, bisa berfungsi sebagai deteksi dini dan dapat digunakan sebagai acuan untuk merencanakan pola hidup sehat dengan gizi seimbang.

Anda harus waspadai jika kadar kolesterol jahat atau LDL berada pada angka 160 karena angka ini merupakan batas resiko terkena stroke atau serangan jantung.

Koleksi Tulisan

Nyonya Kecil

Tempat berbagi ocehan ringan

Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga...

When Samosir Meets Krones

There's Laugh... There's Joy... There's Love... There's Life...

SAZQUEEN

Let me tell you some stories!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Info Indonesia

Informasi Penting tentang Indonesia

INDOBIKERMAGS

Skutik - Bebek - Sport - Supersport - Superbike - Roadster - Cruiser - Cross - Heavy Enduro - Classic - WSBK - MotoGP

Hasanuddin Ali

Beyond Insight

a madeandi's life

something good doesn't have to look difficult

Alief Workshop

Opini & Sharing Jujur dari Seorang Nubie

arinidm's blog

Tempat saya berbagi cerita..

Atre's Odyssey

Indonesian Writer

AULIA FASYA'S BLOG

Menikmati Hari-Hari dengan Tulisan

B. S. Totoraharjo

Orang Bodoh Yang Tak Kunjung Pandai

Cheese Blog

Don't say can't if you don't try

Catatan Harian Syamsudin Kadir

Mengeja Huruf, Memaknai Kehidupan

Denny Siregar

Secangkir Kopi Banyak Cerita

KOPISRUPUT

Sruput Dulu Gan...

bacabacasex

Just another WordPress.com site

%d blogger menyukai ini: